Kenali Lebih Jauh Apa Itu Pneumothoraks
Pneumothoraks adalah keadaan dimana udara mengisi ruang antara bagian luar paru dan bagian dalam dinding dada. Pneumothoraks ialah kondisi dimana terdapatnya udara atau terjebaknya udara di dalam rongga pleura, yang menyebabkan paru-paru terjadi kolaps dan gagal napas. Pneumothoraks merupakan suatu kondisi gawat darurat yang disebabkan terdapatnya akumulasi udara di dalam rongga pleura yang biasanya disebabkan oleh proses suatu penyakit ataupun cedera. Pada kondisi yang normal, rongga pleura dipenuhi dengan paru-paru yang mengembang saat inspirasi yang disebabkan karena tegangan permukaan (bertekanan negative) antara kedua permukaan pleura. Terdapatnya udara pada rongga potensial antara pleura visceral dan pleura parietal akan mengakibatkan paru-paru terdesak sesuai dengan jumlah udara yang masuk ke dalam rongga pleura. Semakin banyak udara yang terperangkap dalam rongga pleura maka akan mengakibatkan paru-paru kolaps karena terjadi peningkatan tekanan pada intrapleura (Utama, 2018).
Terdapat beberapa jenis pneumothorax yang diklasifikasikan berdasarkan penyebabnya dan mekanismeterjadinya, antara lain :
Pneumothoraks berdasarkan penyebabnya :
Pneumothoraks spontan = Pneumothoraks ini terjadi secara spontan tanpa adanya kecelakaan atau trauma. Pneumothoraks spontan dibagi menjadi dua, yaitu :
Primary Spontaneous Pneumothorax (Pneumothoraks Spontan Primer) = Pneumothoraks jenis ini biasanya disebabkan oleh pecahnya bleb pada paru-paru yang biasanya terjadi padaorang sehat tanpa didahului oleh suatu penyakit paru.
Secondary Spontaneus Pneumothorax (Pneumothorak Spontan Sekunder) = iPneumothoraks jenis ini sering kali sebagai akibat dari komplikasi beberapa penyakit paru-paru seperti Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD), infeksi yang disebabkan oleh bakteri pneumocity carinii, cysticfibrosis, interstitial lung disease, dan lain sebagainya (Papagiannis et al., 2015).
Pneumothoraks trauma
Pneumothoraks ini merupakan jenis pneumothoraks yang disebabkan karena adanya trauma yang secara langsung mengenai dinding dada baik benda tajam maupun benda tumpul (Utama, 2018).
c. Iatrogenik pneumothoraks
Pneumothoraks jenis ini biasanya disebabkan karena komplikasi tindakan atau tertusuknya paru-paru karenaprosedur tindakan medis yang baik disengaja maupun tidak disengaja. Tindakan medis yang dapatmenyebabkan pneumothoraks antara lain pemangan subclavian vein cannulation, aspirasi dan biopsy pleura,transthoracic or transbronchial lung biopsy, lung injury yang disebabkan karena penggunaan dari positiveairway pressure selama tindakan mechanical ventilation (Papagiannis et al., 2015).
Pneumothoraks berdasarkan mekanisme terjadinya :
Tension Pneumothorax (Pneumothoraks Terdesak)
Tension Pneumothorax terjadi akibat adanya kerusakan yang menyebabkan udara masuk ke dalam rongga pleura dan terperangkap di dalam pleura, dimana keadaan ini disebut dengan fenomena ventil. Udara yang terperangkap di dalam rongga pleura ini akan menyebabkan tekanan intrapleura meningkat sehingga menyebabkan kolaps pada paru-paru kemudian menggeser mediastinum ke bagian paru-paru kontralateral sehingga terjadi penekanan pada aliran vena balik yang menimbulkan hipoksia.
Open Pneumothorax (Pneumothoraks Terbuka)
Open Pneumothorax sering kali disebabkan karena adanya penetrasilangsung dari benda tajam mengenai dinding dada sehingga menimbulkan defek pada dinding dada. Defektersebut kemudian merobek pleura parietal yang mengakibatkan udara masuk ke rongga pleura. Kondisi inimenyebabkan terjadinya hubungan antara udara di lingkungan luar dengan udara yang ada pada ronggapleura yang kemudian menyebabkan samanya tekanan pada rongga pleura dan udara yang ada di atmosfer. Jika keadaan ini dibiarkan maka akan menyebabkan sianosis sampai distress respirasi (Utama, 2018)
Tanda dan gejala dari pneumothoraks sangatlah bervariasi, tergantung pada jumlah udara yang masuk ke dalam rongga pleura dan luasnya paru-paru yang mengalami kolaps. Manifestasi klinis dari pneumothoraks adalah
A. Pemeriksaan Objektif
a. Vital sign
Pemeriksaan kesehatan yang penting untuk menilai fungsi fisiologi tubuh. Pemeriksaan ini meliputi tekanan darah (blood pressure), denyut nadi (heart rate), frekuensi pernapasan (respiratory rate), saturasi oksigen dan suhu (Herawati.2017).
- Tekanan darah
Tekanan darah adalah tekanan yang ditimbulkan pada dinding arteri. Tekanan puncak terjadi saat ventrikel berkontraksi disebut tekanan sistolik, sedangkan tekanan terendah yang terjadi saat jantung beristirahat disebut tekanan diastolik. Tujuannya untuk mendeteksi atau mendiagnosis masalah kesehatan sejak dini seperti Hipertensi
Normal untuk orang dewasa yaitu 120/80 mmhg.
- Denyut nadi
Detak nadi adalah frekuensi detak jantung seseorang per menit. Tujuannya untuk mengetahui jumlah detak jantung, ritme jantung dan kekuatan detak jantung per menit.
Normal untuk orang dewasa 80-120 x/menit.
- Pernapasan
Pernapasan adalah proses menghirup oksigen (O2) dan melepaskan karbon dioksida (CO2).Tujuannya mengukur seberapa banyak udara yang bisa masuk ke dalam paru-paru, tes pernapasan ini juga mengukur sisa udara setelah mengembuskan napas kuat-kuat. Dan dapat mendiagnosis penyakit paru-paru kronis, seperti PPOK, asma, fibrosis paru, dan sarkoidosis.
Normal untuk dewasa 12-20 x/menit
- Suhu tubuh
Suhu tubuh dapat mengidentifikasi apakah orang tersebut sehat atau tidak. Seseorang bisa mengetahui kondisi orang lain dengan mengecek suhu tubuhnya.
Suhu tubuh normal adalah 360C.
- Saturasi oksigen
Saturasi oksigen merupakan nilai yang menunjukkan kadar oksigen di dalam darah. Tujuannya untuk mengetahui kondisi seseorang apakah sedang kekurangan oksigen atau tidak
Normal saturasi oksigen 95%-100%
Untuk pasien Pneumothoraks vital sign dibawah dari normal karena pasien mengalami sesak napas.
b. Pemeriksaan Per-Kompetensi
- Inspeksi
Keadaan umum pasien, bentuk dada dan postur, pola pernapasan dada, wajah pasien.
Pada pasien Pneumothoraks ditemukan pengembangan dada tampak tidak simetris, terdapat retraksi otot dada, terpasang WSD pada dada sebelah kanan, tampak memar pada bagian dada sebelah kanan, terdapat luka lecet di bagian dada sebelah kanan.
- Palpasi atau meraba
Dengan melakukan perabaan pada bagian yang mengalami keluhan. Untuk mengetahui ada atau tidaknya spasme, peningkatan suhu lokal, oedema serta nyeri tekan.
Pada pasien Pneumothoraks ditemukan dada tidak simetris dimana dada kanan tertinggal dari dada kiri, terdapat nyeri tekan pada dada sebelah kanan, fremitus berkurang terutama pada dada sebelah kanan.
- Perkusi
Pengetokan dinding dada dengan tangan. Untuk melakukan perkusi dada, tangan dibentuk seperti mangkuk dengan memfleksikan jari (menekuk jari kedalam) dan meletakkan ibu jari bersentuhan dengan jari, maka akan timbul berbagai nada yang dibedakan menjadi pekak (padat karena adanya darah), redup (karena adanya cairan), sonor (normal), hipersonor (banyak udara didalam paru-paru) dan timpani (seperti ketukan diatas lambung yang kembung).
Pada pasien Pneumothoraks ditemukan suara hipersonor
- Auskultasi
Menurut (Malik,2018) auskultasi adalah pemeriksaan paling penting untuk mengkaji aliran udara melalui trakeobronkial.
Pada pasien Pneumothoraks terdapat bunyi napas tambahan (ronchi), bunyi jantung dalam batas normal (lupdup), vesikuler melemah pada dada sebelah kanan
Pemeriksaan sangkar thoraks pada kasus respirasi bertujuan untuk mengetahui kemampuan paru-paru dapat mengembang pada fase inspirasi dan ekspirasi, dimana pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui selisih antara fase inspirasi dan ekspirasi pengukuran dengan menggunakan midline. Untuk nilai normal selisih pengukuran axilla(2-3 cm), papilla mamae (3-4) dan processus xipoideus (5-7).
Skala borg adalah garis vertikal yang diberi nilai 0 sampai 10 dan tiap nilai mempunyai deskripsi masing-masing untuk membantu penderita mengetahui derajat sesak dari ringan sampai derajat berat. Untuk nilai 0 (tidak ada sesak), 1 ( sesak sangat ringan), 2-3 (sesak ringan), 4-6 (sesak sedang), 7-8 (sesak berat, 9 (sangat berat) dan 10 (sesak maksimal).
Pursed Lip Breathing
Pursed lips breathing adalah latihan pernapasan dengan menghirup udara melalui hidung dan mengeluarkan udara dengan cara bibir lebih dirapatkan atau dimonyongkan dengan waktu ekshalasi lebih di perpanjang. Terapi rehabilitasi paru-paru dengan pursed lips breathing ini adalah cara yang sangat mudah dilakukan, tanpa memerlukan alat bantu apapun, dan juga tanpa efek negatif seperti pemakaian obat-obatan (Suzanne c. Smeltzer, 2013). Prosedur pelaksanaannya sebagai berikut:
Thoracic Expansion Exercise
Thoracic Expansion Exercise, bertujuan untuk meningkatkan fungsi paru dan menambah jumlah udara yang dapat dipompakan oleh paru sehingga dapat menjaga kinerja otot-otot bantu pernafasan dan dapat menjaga serta meningkatkan ekspansi sangkar thorak. Berikut prosedur pelaksanaannya :
Respiratory Muscle Stretching
pelan-pelan putar bahu dan skapula kedepan beberapa saat, kemudian keluarkan nafas dalam-dalam agar rileks secara menyeluruh.
Rentangkan lengan sejauh mungkin, dan pertahankan posisi ini selama 5 detik. Ketika mengeluarkan nafas, kembalikan lengan ke posisi semula, dan rileks.
Pada pasien yang mengalami Pneumothoraks disarankan untuk mengurangi aktivitas yang terlalu berat guna untuk mengurangi rasa sesak yang dialami dan disarankan kepada pasien untuk melakukan latihan pernapasan yang sudah diberikan secara mandiri dan melakukan stretching otot pernapasan secara rutin agar membantu penyembuhan secara maksimal.
Utama, S. Y. A. (2018). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Sistem Respirasi (1st ed.). Deeppublis.
Papagiannis, A., Lazaridis, G., Zarogoulidis, K., Papaiwannou, A., & Karavergou, A. (2015). Pneumothorax : An Up To Date “Introduction.” Annals of Translational Medicine, 3(4), 53.
Malik Rajni. (2018). Fisioterapi Kardiopulmonal. Jakarta : Kedokteran EGC
Smeltzer, S.C. & Bare, B.G. (2013). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth, edisi 8. Jakarta : EGC.
Sukma, Wardani. (2017). Penatalaksanaan fisioterapi pada pasien dengan pneumonia di rs paru dr. Ario wirawan salatiga. Universitas muhammadiyah surakarta
Mela Patmawati. (2020). Penerapan Pernafasan Respiratory Muscle Stretching (RMS) Untuk Meningkatkan Status Respirasi Pada Keluarga Dengan Asma. Universitas Muhammadiyah Magelang